(sebenernya ini fanfic udah dipost di website FanFiction.net :V tapi gue post lagi diblog pribadi)
Hallo, lama tak berjumpa dengan saya FuFan (oke, ini sebutan
saya pas saya masih di fandom Manga/Anime) berhubung saya terjangkit virus WB
atau Writer Block untuk waktu yang lama (read: males ngetik) jadi saya baru
mulai ngetik lagi hari ini. Lagi ada semangat. Cerita ini juga saya ambil dari
salah satu komik karangan Shiiba Nana, berhubung saya lagi males berimajinasi.
Kalo yang gak suka, gak usah dibaca.
Check it out aja deh udah….
Rating: T
Genre:
Romance/Hurt/Comfort
Warning:
GenderSwitch/GenderBender, AU, OOC, etc. Problem
with GS/GB? Don’t Like, Don’t Read.
Pairing: check it
by yourself
Chara: etc
Italic: Inner/Dalam hati
EXO belongs to SM
Entertaiment, their parents, and God
Love Index 0% belongs to Shiiba Nana
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Luhan POV
“Aku Kim Jongin. Kelas 3 SMA, sekolah di SM International
High School”
Begitulah saat anak laki-laki ini memperkenalkan dirinya.
Tingginya sekitar 180cm dengan gayanya yang cool. Oh Baekhyun, aku… Tak pernah
dengar kalau orangnya setampan ini, lho?! Awal dari semua ini adalah sepatah
kalimat dariku yang tak punya pengalaman dalam hal cinta.
Oh apakah aku belum cerita kepada kalian bahwa aku sedang
kopi darat sekarang? Mungkin kalian tidak akan tahu arti kopi darat itu. Tapi
ini ulah temanku, Baekhyun. Dia yang menyebabkan aku harus melakukan hal aneh
ini. Oke, aku akan meceritakan sebabnya kenapa aku sekarang berdiri di taman
ini dengan seseorang laki-laki tinggi dan tampan ini. Begini ceritanya…..
Luhan POV End
1 Jam yang lalu…
Suasana kelas 3-1 di sekolah EXO High School saat itu sangat
rusuh, banyak anak-anak yang sedang saling melempar kertas padahal itu adalah
kegiatan mereka yang harusnya piket, oke, biarkan saja anak lelaki muda jaman
sekarang. Disudut kelas sebelah kiri, tepatnya bangku paling belakang, terdapat
dua siswi yang sedang berbincang herannya mereka tidak membantu temannya piket;
sebut saja malas. Salah seorang dari kedua siswi itu sedang menatap kearah
jendela, rambut coklat madu sepinggangnya berkibar tertiup angin. Dengan muka
seperti mayat hidup itu dia menopang dagunya dengan kedua tangannya.
“Mungkin layu tanpa pernah kenal cinta juga nggak masalah.”
ucap si gadis dengan rambut coklat madu sepinggang itu, sebut saja Luhan.
Dengan nada yang mendayu lesu itu. Sebenarnya dia gadis yang populer, pintar,
cantik, kaya tetapi….lugu. Itu permasalahannya.
“KAMU NGOMONG APA, HAH?!” Nah, ini satu preman cantik yang
doyan teriak-teriak sebut saja Baekhyun. Dengan napsu terpendamnya dia menarik
kerah seragam Luhan dan mengguncang-guncangkan tubuh Luhan hingga Luhan
terlihat seperti mayat hidup sungguhan, “Sadarlah!” lanjutnya.
“Baru 10 kali ditolak dalam 10 kali pernyataan cinta!!
Jangan kayak nenek-nenek kesepian dong!” nyolot si preman cantik itu, Baekhyun.
“Tapi kamu kan enak, Baek. Sekali nembak cowok, langsung
diterima. Siapa tuh nama kekasihmu? Chan siapa? Chancut? Nyeol? Cendol? Kenyol?
Anak kelas sebelahkan?” jawab Luhan
lemas, melepaskan cengkraman Baekhyun pada kerah seragamnya lalu menenggelamkan
wajahnya diatas meja.
“Itu Chanyeol, Lu! Aduh kamu ini. Oke, kalau begitu biar aku
ajari kamu tentang cinta.” kata Baekhyun dengan keputusan sepihak dan muka
preman cantiknya menyeringai sambil mengibaskan rambut coklat tua ponytailnya
dia. Luhan hanya menghela napas pasrah.
“ Kamu pura-pura pacaran sama teman masa kecilku (yang gak
punya pacar) saja sana!” lanjut Baekhyun seenak jidat. Kali ini Luhan jatuh
tidak sadarkan diri.
Luhan POV
Nah, itulah sebabnya kenapa aku berada di taman ini
sekarang. Semua gara-gara Baekhyun! Aku sih ingin menolaknya cuma gak enak aja
sama Baekhyun yang rela menyeret paksa diriku ke tempat pertemuan kami. Kalau
tahu langsung ketemuan begini, aku harus bicara apa?! Malah Baekhyun juga sudah
pulang. Aku melirik gelisah.
“A-aku Xi Luhan. Kelas 3 SMA di EXO High School.” kataku
gugup, sambil melirik kanan-kiri dan memilin ujung rok seragamku.
“Mohon bantuannya, ya.” ucap si anak laki-laki ini dengan
senyum tipis. Sungguh Tuhan, tolong aku ingin pingsan saja.
Luhan POV End
“Pokoknya, kita jalan dulu yuk!” ajak si anak laki-laki yang
kita ketahui bernama Kim Jongin ini.
“E-eh..eem itu Jongin-ah?”
“Ne?”
“Aku…harus ngapain?” tanya Luhan polos dengan muka gugupnya
yang terlihat imut sampai-sampai pengen author cakar.
Si Kim Jongin hanya terdiam beberapa detik lalu berpaling
dari tatapan Luhan dan tertawa keras. Luhan menggembungkan pipinya. Ingin dia
menghajar laki-laki ini kalau saja bukan pertama kali bertemu, kali saja ilmu
bela dirinya selama ini yang diajarkan adik perempuan manisnya, Zitao, ini
berguna.
“Lakukan saja yang kamu suka.” ujar Jongin dengan santai
setelah berhenti tertawa.
“Yang aku suka….? Boleh?” tanya Luhan dan dijawab dengan
anggukan kepala Jongin.
“Kalau begitu
kulakukan hal-hal seperti orang pacaran dan bikin kenangan indah. Mungkin
kesempatan ini tidak akan datang lagi,” ucap Luhan dalam hati, “AH! Itu!”
Lalu Luhan pun melancarkan aksinya. Yap, mencoba berpegangan
tangan.
Pertama dia ingin menggenggam tangan kiri Jongin, sayangnya
Jongin menghempaskan tangannya kedepan. Sekali lagi, Luhan berusaha meraihnya
tetapi lagi-lagi Jongin menghempaskan kesamping.
Jongin tertawa kecil, “Nih.” ucapnya dengan menyodorkan
tangan kirinya. Luhan tersipu malu dan tertawa senang. Tetapi saat ingin
menggenggamnya……
DUGH
BRUUUGH
“Ah, mianhae.” kata seorang wanita yang sedang memeluk
lengan kekasihnya dengan mesra dan muka watadosnya pada Luhan yang tidak
sengaja mendorong punggung Luhan.
Naas sekali. Luhan kena serangan combo. Pertama, kepalanya
kejedot tiang listrik dan memeluk tiangnya. Kedua, kaki kanannya tercebur dalam
selokan. Luhan meratapi nasibnya dengan wajah pasrah.
“Aku ingin mati saja.”
keluh inner Luhan.
Tiba-tiba tangan Luhan ditarik seseorang.
“Kalau mau peluk, peluk yang ini aja dong,” ucap Jongin
dengan wajah santainya dan membawa Luhan kedalam pelukannya, “Habisnya kita
pacaran, kan?” Jongin tersenyum.
“Besok dan lusa kita kencan lagi ya, Lulu. Boleh aku
memanggilmu begitu, kan?”
Luhan hanya tercengang tidak percaya, tetapi dia tidak
berharap lebih karena dia tau bahwa ini hanya hubungan pura-pura.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Keesokan harinya mereka berjalan-jalan berdua kembali
sehabis pulang sekolah, bertemu di taman seperti biasa. Mereka sedang
beristirahat disebuah kedai dengan dua gelas bubble tea dan dua crepes
digenggaman mereka masing-masing. Luhan melirik Jongin dan tersenyum malu, namun
sedetik berikutnya dia menunduk sedih dan mulai memakan crepesnya.
Jongin yang memang sedari tadi menatap Luhan hanya berkedip
tidak mengerti dan kembali tersenyum.
“Ah. Coklatnya nempel, tuh.” jari Jongin mengusap sudut
bibir Luhan. Luhan diam mematung, lalu menggelengkan kepalanya dan menatap
Jongin dengan penuh tanya.
“Kenapa? Kamu mau? Boleh, kok. Nih” Jongin menyodorkan
crepesnya kehadapan Luhan. Luhan menatap crepesnya ragu-ragu.
“Nggak mau?”
“Eh? M-mau.” Jongin mendekatkan crepenya kebibir Luhan dan
Luhan pun menggigitnya.
“Ini ciuman pertamamu, ya?” Luhan yang kaget dengan
pernyataan Jongin langsung terbatuk-batuk.
“Aku juga. Ciuman tidak langsung.” Jongin langsung menggigit
crepes yang dipegang Luhan. Luhan membulatkan mata tidak percaya.
“Enak ya, Lulu.”
Luhan yang awalnya tidak berharap lebih, kini ia ingin
mengharapkan yang lebih. Setelah mereka selesai makan pun lalu mereka
berjalan-jalan. Membeli buku, bermain di Game Centre, berfoto bersama, ke toko
aksesoris hingga malam hari. Tangan Luhan tidak mau terlepas dari genggaman
Jongin.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Esok harinya, ketika mereka janjian ingin pulang bersama di
taman seperti biasa ternyata hujan turun deras. Luhan melihat keadaan taman
yang sepi ditambah dinginnya suhu dihari itu.
“Hujannya gak berhenti-berhenti, ya.” Luhan merapatkan
jaketnya dan melirik jam tangan yang ia pakai.
“Lulu, mian membuatmu menunggu.” Seseorang memanggil Luhan
dari samping. Luhan menoleh dan melihat Jongin melambaikan tangannya dan
menggenggam payung ditangan satunya lagi.
“Numpang ya?” dengan seenak jidatnya, Jongin menutup
payungnya dan numpang pada payung Luhan.
“A-ah, ini punyaku hanya payung lipat kecil. J-jadi mana
mungkin kita muat berdua.” Luhan yang gelagapan karena Jongin disampingnya pun
mulai membuat alasan, padahal dia sendiri senang.
“Justru enak dong kalo kecil,” Jongin merapatkan Luhan
kedalam pelukannya, “Sini aku aja yang pegang.”
Akhirnya, mereka pun berjalan beriringan dibawah payung
lipat kecil itu.
“Kamu gak suka ya?” Jongin bertanya tanpa menghantikan
langkahnya.
“Emm…itu bukannya aku gak suka,” Luhan menunduk malu, “Aku
senang, kok.” Luhan tersenyum gembira kearah Jongin membuat matanya tertutup
seperti bulan sabit. Lalu, Jongin pun menghentikan langkahnya dan menatap
Luhan, terpana.
“Eh? Kenapa?” tanya Luhan heran.
Dari arah yang berlawanan terdapat mobil yang melaju
kencang, sampai-sampai membuat genangan air disekitar Jongin dan Luhan
terciprat. Jongin dengan sigap mengarahkan payungnya untuk menutupinya.
Jongin menatap dalam Luhan, perlahan ia mendekatkan bibirnya
kebibir Luhan. Melumatnya pelan dan membawa Luhan kedalam pelukannya. Luhan
hanya memejamkan matanya untuk menikmatinya dan meremas pelan seragam Jongin. Luhan
tidak tahu harus bersikap gimana lagi, awalnya ia tidak mau berharap tentang
hubungan pura-pura ini tetapi Jongin malah memperlakukannya dengan lembut
seakan tidak ingin melepaskan Luhan. Luhan bingung dengan semua ini.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Hari ini, Luhan dan Baekhyun terlihat pulang bersama. Tidak
seperti hari-hari biasanya, Luhan selalu pulang bersama Jongin dan janjian di
taman pertama kali mereka bertemu. Luhan yang dari tadi melamun, tidak
memperhatikan langkah dan tersandung batu. Memang sih tidak jatuh, hanya
keseimbangan tubuhnya oleng sedikit.
“Lu, kamu kenapa sih? Jangan kayak mayat hidup begitu dong.
Kemana Luhan ceria dan polos seperti dulu?” tanya Baekhyun.
“Ya! Aku gak polos! Buktinya aku pakai baju, kan?!” Luhan
pun menjitak pelan kepala Baekhyun.
“Appo, ya!” Baekhyun mengaduh kesakitan, pelas sih, tapi
pelan dalam kamus Luhan itu berbeda. Terkadang Baekhyun berpikir Luhan ini
polos atau bodoh tapi jika dikatakan bodoh pun tidak mungkin. Mana mungkin
orang bodoh selalu mendapatnya peringkat pertama parallel selama 2 tahun?
“Baek, kok kamu tumben gak pulang bareng Chanyeol?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Lu. Kalau segitu kangennya,
temui dia sana. Lagipula tadi Chanyeol merengek minta pulang bareng, cuma dia
aku usir karena aku ingin pulang dengan sahabat mayat hidupku ini.” goda
Baekhyun dengan seringai nakalnya dan mencolek dagu Luhan.
“Ya! Aku bukan mayat hidup! Lagipula, katanya Jongin hari
ini ada urusan,” Luhan
menunduk lesu, “ Tapi sebagai gantinya, akhir pekan
besok kami akan kencan seharian penuh.” Luhan tersenyum bahagia dan memainkan
gantungan ponsel rusanya yang diberikan oleh Jongin.
“Nyebelin! Dasar orang kasmaran!” Baekhyun menyilangkan
tangannya didadanya dan membuang mukanya kelawan arah. Luhan hanya tertawa
maklum.
“Eh? Jongin?” Baekhyun yang kaget dengan kehadiran Jongin
lalu berjalan marah kearah Jongin.
“Jongin?! Apa-apaan kamu?!” Baekhyun langsung menampar
Jongin.
“Oh jadi gini yang bilangnya ada urusan dan akhirnya berbohong
pada Luhan. Siapa anak ini?!” Baekhyun menarik kerah seragam Jongin dengan
kasar.
DEG!
Luhan yang awalnya tidak berani melihat, akhirnya pun
menoleh kearah Baekhyun. Mata Luhan membulat sempurna. Dia melihat seorang
laki-laki dengan tinggi yang sama dan menggenggam tangan seorang anak perempuan
bermata bulat, berambut hitam bergelombang panjang yang diikat kesamping.
“Baekhyun………siapa dia?”
“Eh?” Baekhyun yang siap menghajar Jongin kapan saja pun
menoleh kearah Luhan.
“Loh? Kamu belum dengar?” tanya si laki-laki berkulit agak
kecoklatan itu.
“Karena aku sudah punya pacar, kuminta orang lain
menggantikanku jadi pacarnya,” jelas Kim Jongin asli pada Baekhyun, “Kalau
kutolak, kasian dia kan?”
“Makanya, karena kebetulan temanku lagi gak punya kekasih.
Aku minta tolong padanya,” Jongin menghela napas, “Waktu kubilang ini cara
oaling cepat mengisi kekosongan selama dia tidak mempunyai kekasih. Dia
langsung bilang oke. Nggak ada masalah, kan? Ini cuma pacaran pura-pura.” jelas
Jongin asli dengan detail.
Luhan yang mendengarnya tidak dapat menahan air matanya
walau tubuhnya diam mematung.
Jadi selama ini perasaannya telah dipermainkan
orang lain, orang yang tidak dia kenal sama sekali. Kaki Luhan begitu lemas
ketika mengetahui kebenaran itu. Baekhyun menatap Luhan cemas, lalu dia pun
membawa Luhan kedalam pelukannya dan mengantarkan Luhan pulang.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Akhir pekan ini Luhan tidak menepati janjinya untuk kencan
dengan seseorang yang menyamarkan namanya menjadi ‘Jongin’. Luhan hanya takut,
takut hatinya terluka untuk kedua kalinya. Luhan pun bermain dirumah Baekhyun
sampai malam.
“Benar nggak perlu kuantar?” tawar Baekhyun didepan gerbang
saat ingin mengantarkan Luhan pulang.
“Iya. Mianhae, aku sampai malam begini dirumahmu.”
“Benar nggak apa kamu nggak pergi ke kencanmu?” Baekhyun
bertanya khawatir.
“Nggak apa-apa.” Luhan tersenyum getir.
Grek. Sebuah jendela diatas, tepatnya jendela rumah sebelah
rumah Baekhyun terbuka.
“Hei, kamu!” Seseorang memanggil Luhan.
“Jongin?! Ngapain kamu?!!” Baekhyun membentak Jongin kesal
dan hampir lempar sandal kearahnya.
“Eh?! T-tunggu. Aku hanya ingin member tahu. Mau tau kabar
orang yang pura-pura jadi pacarmu, gak?”
“Eh?” Luhan hanya menatap Jongin bingung.
“Sepertinya ponselnya dimatikan. Orangtuanya menghubungiku,
katanya dia belum pulang. Kamu nggak tau dia dimana?”
DEG!
Kali ini lagi. Luhan membulatkan matanya tidak percaya. Ada
rasa khawatir dalam dirinya. Jangan-jangan dia masih menunggunya di taman
seperti biasa. Sampai malam seperti ini?!
“Luhan! Mau kemana?!”
Luhan pun berlari cepat tanpa menghiraukan teriakan
Baekhyun.
Di Taman
“Kamu siapa?” tanya Luhan setelah sampai di taman itu. Dia
melihat sosok yang dikenalnya sebagai ‘Jongin’ sedang duduk didekat air mancur.
‘Jongin’ yang ditanya pun menoleh kearah Luhan dengan
tatapan bingung.
“Kenapa kamu bohong untuk pura-pura jadi pacarku?” Luhan
bertanya datar.
‘Jongin’ yang ditanya seperti itu pun hanya kaget menatap
Luhan dan hanya diam menunggu Luhan melanjutkan kata-katanya.
“Kamu kasihan kalau aku sampai ditolak orang yang mau
pura-pura jadi pacarku?” Luhan mulai meneteskan pelan air matanya, “Kamu cuma
mau aku jadi pengisi kekosongan sampai kamu dapat kekasih sesungguhnya?”
Runtuh sudah pertahanan Luhan, air matanya mengalir deras.
Luhan seperti dihantam ribuan samurai dalam dadanya. Dia benar, seharusnya dia
tidak berharap lebih dalam hubungan ini.
“Andai pertemuan kita tidak seperti ini,” Luhan menunduk
dalam dan menggigit bibirnya, terisak pelan, “Aku pasti sudah jatuh cinta
padamu.” Luhan menangis tersedu, kakinya pun tidak kuat menopang tubuhnya lagi
saat ‘Jongin’ itu pergi melewatinya begitu saja. Luhan terjatuh duduk dan
mengusap kasar air matanya. Sakit rasanya membayangkan selama ini perasaannya
hanya sebuah permainan saja.
“Perkenalkan.” Luhan terdiam mendengar suara itu lagi. Suara
yang selama ini membuatnya jatuh cinta, suara yang membuatnya tenang, suara
yang menjaganya dengan lembut.
“Namaku Oh Sehun. Aku kelas 3 SMA di SM Internationl High
School,” Sehun menghela napas, “Aku lahir tanggal 12 April 1994, bintang Aries.
Golongan darahku O. Hobiku menari dan rap. Pelajaran favoritku olahraga.”
Luhan menatap Sehun bingung. Sehun pun berjalan mendekat
kearah Luhan dan berjongkok dihadapan Luhan.
“Aku mau mengulang pertemuan kita,” Sehun tersenyum simpul,
“Xiao Lu tidak kuanggap sebagai pengisi kekosongan. Aku juga tidak menganggap
ini pacaran pura-pura.”
Sehun menggenggam tangan Luhan dan menariknya berdiri lalu
menghapus air mata Luhan perlahan.
“Aku tidak peduli apapun yang jadi awal pertemuan kita,”
Sehun membingkai wajah Luhan dengan kedua tangannya, “Aku mencintaimu. Tolong
jadilah kekasihku, Saranghae.”
Luhan menatap Sehun tidak percaya dan mulai menetesakan air
mata lagi, tetapi kali ini air mata bahagia.
“Nado.” Luhan menunduk malu. Sehun pun tersenyum dan membawa
Luhan dalam pelukannya.
“Nan jeongmal saranghae.” Sehun mempertemukan bibir mereka
dan kembali membawa Luhan dalam ciuman lembut. Luhan membalas ciumannya dan
mengeratkan pelukan pada leher Sehun. Ciuman yang terasa manis dan asin
bercampur sekaligus. Air mata Luhan terus mengalir melewati pertemuan bibir
mereka.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
“Seharusnya kamu bilang saja sebenarnya kalau kamu
menggantikan Jongin.” kata Luhan diperjalanan pulang, menggenggam erat tangan
Sehun.
“Aku tidak mau kamu menolakku karena tiba-tiba orang yang
tidak kamu kenal bilang mau pura-pura jadi pacarmu.” jelas Sehun dan menatap
Luhan.
“Kenapa kamu sampai berbuat sejauh itu? Hanya demi aku?”
Luhan bingung dan menghentikan langkahnya, lalu menatap Sehun dengan tatapan
meminta penjelasan.
“Karena senyummu manis.” Sehun hanya tersenyum lembut kearah
Luhan dan mengecup bibir Luhan sekilas. Luhan hanya menunduk malu dan menutupi
wajahnya dengan tangan sebelahnya. Sehun hanya terkekeh melihat tingkah Luhan
yang menurutnya lucu dan polos itu, lalu menarik tangan Luhan untuk berjalan
pulang.
END
OMAKE
7 hari yang lalu…
Hari itu Jongin mengajak Sehun kerumahnya untuk menunjukan
game terbaru yang ia beli kemarin. Namun saat mereka ingin mencoba game baru
tersebut, sebuah tawa yang kencang menyambut kedatangan mereka dikamar Jongin.
Jongin yang kesal pun berjalan kearah jendela untuk memeriksanya.
GREK
“Kamar Baekhyun hari ini berisik banget sih.” keluh Jongin
sambil membuka jendela kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Baekhyun untuk
melihat kearah kamar preman cantik satu itu.
Sehun yang tadinya memainkan PSP punya Jongin pun lalu
mempause gamenya dan berjalan kearah Jongin, “Ada apa sih?”
“Kau lihat saja sendiri, Hun. Tetanggaku berisik sekali.”
Jongin berjalan meninggalkan Sehun yang masih berdiri mematung dijendela
menatap jendela sebrangnya.
“Kau tidak melihat tingkah anehnya Chanyeol dan Jongdae
tadi? Oh mereka sangat konyol! Chanyeol makan dengan terburu-buru dan tertawa
lalu dia tersedak dan batuk-batuk bwahahaha. Kau lihat, Lu? Nasi yang tersembur
dari dalam hidung Chanyeol saat terbatuk? Lalu reaksi Jongdae? AHAHAHAHAHA
astaga mereka sangat konyol!” Baekhyun tertawa kencang sekali saat bercerita,
berguling sana sini saking gembiranya.
“Aku melihatnya hahahaha. Dan Jongdae pun yang saat itu
sedang flu tertawa dengan hebat melihat nasi dari hidung Chanyeol itu dan tidak
sadar lendir dihidungnya sudah membentuk balon besar! Hahahahaha sungguh
konyol! Untung Xiumin dengan baiknya member saputangan padanya.” Luhan pun
menanggapi cerita temannya itu dengan tertawa lebar, tidak menyadari seseorang
yang dari tadi menatapnya disebrang sana.
“Mulutnya besar.” Sehun menatap Luhan tanpa kedip, lalu
tersenyum sekilas yang jarang ditunjukan didepan orang lain.
“Kau kenapa, Hun?” Jongin yang merasa dari tadi Sehun tidak
beranjak dari tempatnya pun bertanya pada Sehun yang seperti bergumam sesuatu.
“Ah, aniya.” Sehun hanya membalas seadanya sambil menatap
kembali jendela disebrang sana dan tersenyum melihat kelakuan si gadis berambut
coklat muda lurus sepinggang itu.
(beneran) END
BGM: Fukai Mori (Ost. Inuyasha) [padahal saya rasa lagu itu
gak cocok sama fanfic ini, tapi berhubung ngetiknya diiringi sama lagu itu jadi
yaudah dengerin aja(?)]
Yap akhirnya selesai juga. Cerita ini sedikit saya
modifikasi dan saya jelasin detailnya biar ngerti, soalnya dikomiknya itu jauh
lebih singkat dan kalo ada yang gak ngerti juga yasudah wassalam aja. Dan maaf
kalo banyak typo, saya ngetiknya baru hari ini juga sampai selesai soalnya
karena saya males buat chaptered. Well, masalah dengan punggung saya juga sih
yang mungkin encok kayak si Jongin jadi duduk suka gak nyaman dan ngetiknya
terganggu jadi saya harus tengkurap buat ngetik ini (bilang aja males ngedit).
Tentang omakenya itu ceritanya seminggu sebelum HunHan kopdar gitu deh, jadi
Sehun udah tau Luhan lebih dulu. Yagitulah. Pasti ngertikan? Oh dan maaf banget
kalo kesan ‘Korea’ di fanfic ini dikit, saya ini dulunya penyuka Jepang -_-
(sampai sekarang) dan maaf (banget) kalo alurnya kecepetan, ngebingungin dan
data raja gak ada feelnya gitu karena saya ini udah lama gak ngetik orz
Jadi ada yang gak ngerti gak sama cerita ini? Kalo gak
ngerti beli aja sana komiknya #dzigh kalo udah beli komiknya pasti ngerti deh
(kok jadi promosi)
Yaudah daripada banyak curhatan disini (padahal daritadi
udah banyak) saya cuma mau minta kritik dan saran saja. Btw saya ini lebih
prefer buat fanfic oneshot mau itu sampe beribu-ribu wordslah, soalnya kalo
chaptered saya suka kena WB atau putus imajinasi (udahan curhatnya dong)
Oke sampai jumpa di fanfic berikutnya (kalo gak kena WB) [rencananya
mau buat BaekYeol] doain saya!
Sign in,
Derp Boy (atau FuFan, btw ini bukan nama asli)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar